Tampilkan postingan dengan label Geografi X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi X. Tampilkan semua postingan

9/17/2020

GEOGRAFI KELAS X " HAKIAKAT GEOGRAFI"

- 1 komentar

 TULIS DAN URAIKAN TUGAS KEDALAM BUKU CATATAN 
KUMPUL PADA HARI KAMIS 24 SEPTEMBER 2020

Membuat Peta Konsep Pengertian Geografi, Objek Studi Geografi, Aspek Geografi Lengkap dengan keterangan dan contoh gambarnya. 


[Continue reading...]

8/27/2020

GEOGRAFI KELAS X " JAGAT RAYA " 26 Agustus 2020

- 0 komentar

 ABSEN 

klik disini

BUATLAH POWER POIN TEKS DARI MATERI BERIKUT 


Tugas membuat Power Poin 

-Minimal 6 slide

- kirim file via WA (085764444382) 

- Dikumpulkan terahir sampai tgl 5 September (Lebih Cepat Lebih Baik)


TEORI KEADAAN TETAP

Teori Keadaan Tetap menyebutkan bahwa alam semesta selalu memuai dengan laju tetap dan materi baru terus menerus tercipta. Akibatnya, dalam ruang tertentu selalu dipadati oleh materi yang berjumlah tetap. Teori ini diajukan oleh ahli kosmologi bangsa Inggris (Fred Hoyle, Herman Bondi dan Thomas Gold). Dikatakan bahwa alam semesta ini tak berawal dan tak berakhir. Di mana-mana sama setiap saat. Agar alam semesta selalu dalam keadaan begitu maka perlu diciptakan bahan baru secara sinambung. Bahan baru ini menimbulkan tekanan yang memaksa alam semesta memuai secara terus-menerus. Bahan baru tersebut selanjutnya memadat menjadi galaksi untuk mengisi kekosongan yang ditimbulkan karena pemuaian.

TEORI DENTUMAN BESAR (BIG BANG)

Teori Dentuman Besar menyatakan bahwa alam semesta ini bermula dari suatu ledakan dahsyat (Big Bang) dan galaksi akan meluas tanpa batas. Teori lahir dari pemikiran ahli fisika Amerika (George Gamow). Ia mengatakan bahwa pada mulanya, alam semsta ini seperti bola raksasa yang sangat padat. Bola raksasa ini terdiri dari neutron dan tenaga pancaran yang disebut ‘Ylem” (diucapkan ‘ailem’). Sekitar 18 milyar tahun yang lalu, ylem ini meledak dahsyat. Bola mengembang sehingga berkurang kepadatannya dan turunlah suhunya dari milyaran derajad hingga jutaan derajad. Pada suhu sekitar 60 juta derajad semua neutron berubah menjadi proton dan elektron. Bersamaan dengan suhu yang menurun, terbentuklah semua unsur yang ada di alam sekarang ini. Pada suhu sekitar 300 derajad semua unsur berubah menjadi gas. Gumpalan gas inilah yang menjadi awal dari sebuah galaksi. Pengertian lebih lanjut tentang teori BIG BANG :

 

http://kyawkyawoo.files.wordpress.com/2008/09/big-bang.jpg


Melalui dua proyek besar pemetaan galaksi yang dilakukan hingga kini, para ilmuwan telah membuat penemuan yang memberikan dukungan sangat penting bagi teori "Big Bang". Hasil penelitian tersebut disampaikan pada pertemuan musim dingin American Astronomical Society.Luasnya penyebaran galaksi-galaksi dinilai oleh para astrofisikawan sebagai salah satu warisan terpenting dari tahap-tahap awal alam semesta yang masih ada hingga saat ini. Oleh karenanya, adalah mungkin untuk mengacu pada informasi tentang penyebaran dan letak galaksi-galaksi sebagai "sebuah jendela yang membuka pengetahuan tentang sejarah alam semesta."Dalam penelitian mereka yang berlangsung beberapa tahun, dua kelompok peneliti yang berbeda, yang terdiri dari ilmuwan Inggris, Australia dan Amerika, berhasil membuat peta tiga dimensi dari sekitar 266.000 galaksi. Para ilmuwan tersebut membandingkan data tentang penyebaran galaksi yang mereka kumpulkan dengan data dari Cosmic Background Radiation [Radiasi Latar Alam Semesta] yang dipancarkan ke segenap penjuru alam semesta, dan membuat penemuan penting berkenaan dengan asal usul galaksi-galaksi. Para peneliti yang mengkaji data tersebut menyimpulkan bahwa galaksi-galaksi terbentuk pada materi yang terbentuk 350.000 tahun setelah peristiwa Big Bang, di mana materi ini saling bertemu dan mengumpul, dan kemudian mendapatkan bentuknya akibat pengaruh gaya gravitasi.Menurut teori Big Bang, segala sesuatu berawal dari ledakan satu titik tunggal berkerapatan tak terhingga dan bervolume nol. Seiring dengan berjalannya waktu, ruang angkasa mengembang dan ruang yang memisahkan antara benda-benda langit pun mengembang.

 

Penemuan tersebut membenarkan teori Big Bang, yang menyatakan bahwa jagat raya berawal dari ledakan satu titik tunggal bervolume nol dan berkerapatan tak terhingga yang terjadi sekitar 14 miliar tahun lalu. Teori ini terus-menerus dibuktikan kebenarannya melalui sejumlah pengkajian yang terdiri dari puluhan tahun pengamatan astronomi, dan berdiri tegar tak terkalahkan di atas pijakan yang teramat kokoh. Big Bang diterima oleh sebagian besar astrofisikawan masa kini, dan menjadi bukti ilmiah yang membenarkan kenyataan bahwa Allah telah menciptakan alam semesta dari ketiadaan.Dalam penelitiannya selama sepuluh tahun, Observatorium Anglo-Australia di negara bagian New South Wales, Australia, menentukan letak 221.000 galaksi di jagat raya dengan menggunakan teknik pemetaan tiga dimensi. Pemetaan ini, yang dilakukan dengan bantuan teleskop bergaris tengah 3,9 meter pada menara observatorium itu, hampir sepuluh kali lebih besar dari penelitian serupa sebelumnya.(Di bawah pimpinan Dr. Matthew Colless, kepala observatorium tersebut, kelompok ilmuwan ini pertama-tama menentukan letak dan jarak antar-galaksi. Lalu mereka membuat model penyebaran galaksi-galaksi dan mempelajari variasi-variasi teramat kecil dalam model ini secara amat rinci.

 

Para ilmuwan tersebut mengajukan hasil penelitian mereka untuk diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society [Warta Bulanan Masyarakat Astronomi Kerajaan].Dalam pengkajian serupa yang dilakukan oleh Observatorium Apache Point di New Mexico, Amerika Serikat, letak dari sekitar 46.000 galaksi di wilayah lain dari jagat raya juga dipetakan dengan cara serupa dan penyebarannya diteliti. Penelitian ini, yang menggunakan teleskop Sloan bergaris tengah 2,5 meter, diketuai oleh Daniel Eisenstein dari Universitas Arizona, dan akan diterbitkan dalam Astrophysical Journal [Jurnal Astrofisika]. Hasil yang dicapai oleh dua kelompok peneliti ini diumumkan dalam pertemuan musim dingin American Astronomical Society [Masyarakat Astronomi Amerika] di San Diego, California, Amerika Serikat pada tanggal 11 Januari 2005.Data yang diperoleh dari satelit COBE pada tahun 1992 mengungkap adanya fluktuasi sangat kecil pada pancaran Radiasi Latar Alam Semesta.


Big Bang dalam kosmologi adalah salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari ledakan mahadahsyat yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun lalu. Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta. Materi-materi ini kemudian yang kemudian mengisi alam semesta ini dalam bentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya dialam semesta ini.
Para ilmuwan juga percaya bawa Big Bang membentuk sistem tata surya. Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relativitas umum dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus. Konsekuensi alami dari Teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam semesta punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi.

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOZY2IuwDzWiDfILI4oEiEjfvbM6G5f5wvN_belmWDk_i4nDQMcNjDL4g72BYk-8IP4_FVVqoZzTozDpkXTCIl8lyeqNyMxP-dyiXPN8cwGv0mNGnNG83jYsvTCzzfRMKuWOr2PpQe-xdO/s400/BigBang.jpg

Big-Bang dan Alam Semesta yang Mengembang
Pada tahun 1929 Astronom Amerika Serikat, Edwin Hubble melakukan observasi dan melihat Galaksi yang jauh dan bergerak selalu menjauhi kita dengan kecepatan yang tinggi. Ia juga melihat jarak antara Galaksi-galaksi bertambah setiap saat. Penemuan Hubble ini menunjukkan bahwa Alam Semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama, namun bergerak mengembang. Kemudian ini menimbulkan suatu perkiraan bahwa Alam Semesta bermula dari suatu ledakan sangat besar pada suatu saat di masa lampau yang dinamakan Dentuman Besar.


Pada saat itu dimana Alam Semesta memiliki ukuran nol, dan berada pada kerapatan dan panas tak terhingga; kemudian meledak dan mengembang dengan laju pengembangan yang kritis, yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya segera mengerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kurang lebih kosong. Dan sesudah itu, kurang lebih jutaan tahun berikutnya, Alam Semesta akan terus mengembang tanpa kejadian-kejadian lain apapun. Alam Semesta secara keseluruhan akan terus mengembang dan mendingin.
Alam Semesta berkembang, dengan laju 5%-10% per seribu juta tahun. Alam Semesta akan mengembang terus,namun dengan kelajuan yang semakin kecil,dan semakin kecil, meskipun tidak benar-benar mencapai nol. Walaupun andaikata Alam Semesta berkontraksi, ini tidak akan terjadi setidaknya untuk beberapa milyar tahun lagi.


Berbagai macam energi yang ada di Alam Semesta ini jika ditelusuri adalah berasal dari energi Big Bang, yaitu energi pada saat penciptaan. Jumlah total seluruh energi di Alam Semesta ini adalah tepat nol.


TEORI ALAM SEMESTA YANG BERAYUN

 


Tampaknya Teori Alam Semesta yang Berayun merupakan kelajutan dari teori Dentuman Besar. Para ahli menemukan bahwa gerak galaksi yang saling menjauh itu menunjukkan tanda-tanda makin melambat. Pelambatan ini menghasilkan suatu spekulasi bahwa alam semesta ini melengkung positif. Apabila benar demikian maka berarti alam semesta ini tak bertepi tetapi tidak tanpa batas. Sehingga, pada suatu waktu semua materi akan berhenti dan mulai mengerut lagi sebagai akibat gaya (tarik) gravitasi. Semua materi akan termampat lagi menjadi sebuah bola raksasa dan selanjutnya akan meledak lagi. Terbentuklah alam semsta seperti yang kita alami saat ini. Selama proses mengembang dan mengkerut, memampat dan meledak tiada materi yang rusak atau tercipta, melainkan hanya beubah tatanannya.

Hingga sekarang teori dentuman besar (BIG BANG ) merupakan teori yang paling kuat tentang asal-usul Jagat Raya



ANGGOTA JAGAT RAYA

Galaksi


Galaksi adalah tata bintang. Galaksi kita dikenal dengan Bima Sakti. Dalam galaksi kita kira-kira terdapat 200 milyar bintang.Bima Sakti berbentuk spiral (gulungan), tetapi karena Bumi terletak di dalam galaksi, kita melihatnya sebagai pita kabur berisikan bintang-bintang. Bima Sakti kira-kira terbentang selebar 100000 tahun cahaya, dan bagian tengahnya kira-kira setebal 15000 tahun cahaya. Tata surya kita terletak sekitar 30000 tahun cahaya dari pusat galaksi.

Bintang selalu berada dalam kelompok-kelompok yang disebut galaksi, bersama dengan gas, debu, dan "materi gelap"; ±10-20% galaksi terdiri dari bintang, gas, dan debu. Galaksi terjaga oleh gaya gravitasi dan bagian galaksi yang mengorbit ke suatu pusat.Ada beberapa bukti bahwa lubang hitam mungkin ada di pusat beberapa, atau kebanyakan galaksi. Galaksi ber-evolusi dari protogalaksi.Terdapat banyak Galaksi di alam semesta, contohnya: Galaksi Bimasakti,Galaksi Andromeda,maupun Galaksi yang belum diberi nama atau belum ditemukan.Matahari hanyalah satu dari sekian ribu bintang yang terdapat di galaksi bimasakti. Pusat dari bimasakti diperkirakan bintang yang memiliki ukuran beberapa kali lebih besar dari matahari.


GALAKSI BIMASAKTI

 

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRnO7n8iLEnl0Gly59OnY0jNIdlkdeEd25-StpPuNXFAv0CnG73Cg

Jenis galaksi
Galaksi terdapat dalam tiga bentuk utama: ellipticals, spirals, dan tidak sekata ( irregulars ). Gambaran yang lebih lengkap mengenai jenis-jenis galaksi diberikan oleh aturan Hubble ( Hubble sequence ). Galaksi kita, Bima Sakti, kadang-kala secara ringkas dipanggil Galaksi (dengan huruf besar), adalah barred spiral yang besar sekitar 30 kiloparsecs atau 100,000 tahun cahaya diameter, mengandungi hampir 300 juta bintang dan mempunyai jumlah keseluruhan jisim sekitar satu trillion kali ganda jisim matahari.
Dilihat melalui tabir latar belakang bintang yang terletak dalam galaksi kita (Bima Sakti), galaksi spiral (ESO 269-57) sekitar 150 juta tahun cahayadan 200,000 tahun cahaya melintang.
Dalam spiral galaksi, the spiral arms mempunyai bentuk bersamaan logarithmic spiral, pola yang boleh dibuktikan secara teorinya hasil dari gangguan dalam jisim bintang berputar secara sekata. Seperti bintang, lengan spiral juga berputar pada satu pusat, tetapi ia berlaku pada angular velocity tetap. Ini bererti bahawa bintang bergerak kedalam dan keluar lengan spiral. Lengan spiral dijangkakan sebagai kawasan kepadatan tinggi atau gelombang kepadatan. Ketika bintang bergerak ke dalam lengan, ia menjadi perlahan, dengan itu menghasilkan kepadatan lebih tinggi; ia menyerupai "gelombang" pergerakan perlahan sepanjang highway yang dipenuhi kereta.Lengan galaksi jelas kelihatan disebabkan kepadatan tinggi memudahkan pembentukan bintang dan dengan itu ia mempunyai banyak bintang muda dan terang.

 

2. Struktur berskala besar
Ruang antara galaksi hampir kosong, kecuali bagi awan gas intergalaktik.
Hanya sebahagian kecil galaksi wujud secara bersendirian; dan ia dikenali sebagai galaksi lapangan ('field Galaksi'). Kebanyakan galaksi terikat oleh daya tarikan graviti dengan beberapa galaksi yang lain. Struktur yang mengandungi sehingga 50 galaksi dipanggil sebagai kelompok galaksi ( groups of galaksi ), dan struktur mengandungi beribu-ribu galaksi terkandung dalam kawasan beberapa megaparsec melintang dikenali sebagai gugusan galaksi. Gugusan super ( Supercluster ) adalah satu kumpulan besar bintang yang mengandungi beribu juta galaksi, dalam gugusan, kelompok, dan kadang-kala bersendirian; sepanjang yang kita ketahui alam sejagat adalah sekata pada skala lebih dari ini.
Galaksi kita merupakan ahli Kumpulan Tempatan ( Local Group ), dan bersama-sama dengan Galaksi Andromeda menguasainya; pada keseluruhannya Kumpulan Tempatan mengandungi sekitar 30 galaksi dalam ruang sekitar ten megaparsecs melintang. Kumpulan Tempatan merupakan sebahagian dari Gugusan super tempatan ( Local Supercluster ), juga dikenali sebagai Virgo Supercluster.


3. Sejarah
Pada tahun 1610, Galileo Galilei menggunakan teleskop untuk mengkaji jalur terang di langit yang dikenali sebagai Milky Way dan mendapati bahawa ia terdiri daripada bintang malap yang banyak. Dalam treatise pada tahun 1755, Immanuel Kant, menggunakan hasil kerja awal olehastronomi Thomas Wright, menjangkakan (secara benar) bahawa galaksi terdiri daripada sejumlah besar bintang yang berputar, dikekalkan oleh daya tarikan graviti seumpama dengan sistem suria tetapi pada skala yang lebih besar. Cakera bintang yang terhasil akan dilihat sebagai jalur di langit dari sudut pandangan kita pada kedudukan dalam cakera. Kant juga menjangkakan bahawa sebahagian nebula yang kelihatan di langit mungkin galaksi yang terasing.
Pada akhir abad ke 18, Charles Messier mengumpulkan katalog mengandungi 109 nebulae paling jelas, kemudian diikuti dengan katalog 5000 nebulae dihimpun oleh William Herschel. Pada tahun 1845, Lord Rosse membina teleskop baru dan mampu membezakan antara nebulae elliptical dan spiral nebulae. Dia juga berjaya mengenal pasti sumber titik individu sebahagian dari nebulae ini, menyokong jangkaan Kant yang lebih awal. Bagaimanapun, nebulae tidak diterima umum sebagai galaksi terasing jauh sehingga pekara itu diselesaikan oleh Edwin Hubble pada awal 1920andengan menggunakan teleskop baru. Dia berjaya menyelesaikan bahagian luar sesetengah spiral nebulae sebagai kumpulan bintang individual dan mengenal pasti sebahagian pengubah Cepheid ( Cepheid variable ), dengan itu membenarkan anggaran mengenai jarak kepada nebulae: ia terlalu jauh untuk menjadi sebahagian Bima Sakti Milky Way. Pada tahun 1936, Hubble menghasilkan sistem pengkelasan untuk Galaksi yang masih digunakan sehingga hari ini, aturan Hubble.
Cubaan pertama menjelaskan bentuk Bima Sakti dan kedudukan matahari di dalamnya dijalankan oleh William Herschel pada tahun 1785 dengan mengira dengan cermat jumlah bintang pada kedudukan berlainan di langit. Menggunakan pendekatan yang lebih baik, Kapteyn pada tahun 1920arrived at the picture of a small (diameter ~15 kiloparsecs) ellipsoid galaxy with the sun close to the center. Kaedah berlainan digunakan olehHarlow Shapley berasaskan pengkatalog globular cluster mendorong kepada gambaran berlainan: cakera leper dengan diameter sekitar ~70 kiloparsecs dan matahari jauh dari pusat. Kedua analisa gagal mengambil kira penyerapan cahaya oleh habuk interstellar dust yang hadir dalamgalactic plane; apabila Robert Julius Trumpler mengambil kira kesan ini pada 1930 dengan mengkaji open cluster, gambar galaksi kita hari ini seperti digambarkan di atas muncul.

 

https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR_lt-aJWh1tQZnENXPd7cjaBJEFkqHxYhfq1RpnGU5bIrvYl-_


Pada tahun 1944, Hendrik van de Hulst menjangkakan radiasi microwave pada jarak gelombang 21 sentimeter, terhasil dari gas hidrogen atomik interstellar atomic; radiasi ini dikesan pada tahun 1951. Radiasi ini membenarkan kajian mengenai Galaksi yang lebih baik kerana ia tidak terjejas oleh penyerapan debu dan Doppler shiftnya boleh digunakan untuk memetakan pergerakan gas dalam Galaksi. Pemerhatian ini membawa kepada postulation of a rotating bar structure dipusat Galaksi. Dengan teleskop radio yang lebih baik, gas hidrogen boleh dijejak dalam Galaksi lain. Pada tahun 1970-an ia disedari bahawa jumlah keseluruhan jisim yang dapat dilihat (dari bintang dan gas) tidak memberikan kelajuan putaran gas, dengan itu mendorong kepada postulation jisim gelap ( dark matter ).
Bermula pada 1990-an, Teleskop Angkasa Hubble ( Hubble Space Telescope ) menghasilkan pemantauan lebih baik. Antara lain, ia mengesahkan bahawa jisim gelap yang hilang dalam galaksi kita tidak semata-mata terdiri dari bintang kecil yang malap. Ia mengambil gambar Hubble Deep Field, memberikan bukti bahawa dalam alam yang dapat dilihat sahaja, wujudnya beratus juta Galaksi.
Pada tahun 2004, galaksi Abell 1835 IR1916 menjadi galaksi terjauh pernah dilihat manusia.

BINTANG

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxUzgOrvJcGY3Ftx7N9RtCPMuCLm_Bqou1F3_V6DZoiSgPFo9turGmdvmbsn_WD0TEWtbTFvNe_qiHxK1g3q9HZ1jlGmhH-d8i36WQo4fkFAqa6z6cgr_bwKbCoHlDGu_ciB8YooODJQzY/s400/bintang+%25281%2529.jpg

Bintang merupakan benda langit yang mempunyai cahaya sendiri akibat reaksi inti di dalamnya. Cahaya bintang terdiri atas gas berpijar yang jika diamati mengeluarkan cahaya dengan warna yang berbeda, ada yang putih kebiru-birua, merah, atau kekuning-kuningan. Menurut hukum Fisika, bintang yang memiliki cahaya putih kebiru-biruan memiliki temperature yang tinggi, semakin kemerahan atau kuning maka temperaturnya semakin rendah. Dengan mempelajari bab ini maka kita mengetahui bagaimana proses terbentuknya Jagat Raya, anggota Jagat Raya seperti Galaksi dan bintang, dan lain-lain yang masih menjadi misteri sampai saat ini

 


[Continue reading...]

8/13/2020

GEOGRAFI KELAS X " JAGAT RAYA "

- 0 komentar



TULIS KEMBALI (SALIN) MATERI POWER POIN KEDALAM BUKU TUGAS 

 

[Continue reading...]

7/30/2020

GEOGRAFI KELAS X "HAKIKAT GEOGRAFI " ( pertemuan 30 juli 2020 )

- 0 komentar
MENGANALISIS KEMBALI MATERI  " HAKAT GEOGRAFI "


Tuliskan pada buku dan carilah literatur ( sumber atau acuan ) yang berkaitan mengenai " HAKIKAT GEOGRAFI "   di kumpul di hari kamis  TANGGAL 06 Agustus 2020 pagi jam 08:30 WIB.....

ABSEN 
KLIK DISINI....

[Continue reading...]

7/23/2020

GEOGRAFI KELAS X "HAKIKAT GEOGRAFI "

- 0 komentar

TULIS KEMBALI (SALIN) MATERI POWER POIN KEDALAM BUKU TUGAS 


[Continue reading...]

7/16/2020

Geografi " HAKIKAT GEOGRAFI " Kelas X iis

- 2 komentar

Hakekat Geografi

Diposting: 16 Juli 2020  


HAKIKAT GEOGRAFI

Dalam bidang ilmu pengetahuan ditegaskan bahwa ada suatu pengetahuan yang sistematis disebut ilmu pengetahuan yang memiliki sekurang-kurangnya tiga aspek, yaitu aspek ontologis, aspek epistemologis dan aspek aksiologis atau aspek fungsional. Hakikat Geografi sebagai ilmu pengetahuan dapat ditelusuri melalui bagian permukaan bumi dengan kehidupan manusia.

1. Aspek Ontologis 
Aspek ontologis pada suatu disiplin ilmu pengetahuan dihendaki adanya rumusan (persetujuan) tentang objek studi yang jelas dan meyakinkan terkait dengan bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, Geografi merupakan studi tentang: 
(1) Bentangan atau landskap. 
(2) Tempat-tempat (jenis, Lukerman). 
(3) Ruang, khusus yang ada di permukaan bumi (E. Kant). 
(4) Pengaruh tertentu dari Lingkungan bagi manusia (Houston, Martin). 
(5) Pola-pola ruang yang beraneka ragam (Robinson, Lindberg, dan Brinkman). 
(6) Perbedaan wilayah dan integrasi wilayah (Hartshorne). 
(7) Proses-proses Lingkungan dan pola-pola yang dihasilkannya (Barlow-Newton).
( 
9) Kombinasi atau paduan, konfigurasi-gejala pada permukaan bumi 
(Minshull). 
(10) Sistem manusia-lingkungan. 
(11) Sistem manusia-bumi (Berry ) (Lokasi, distribusi, interdependensi, dan interaksi dalam ruang (Lukerman). ). 
(12) Saling Hubungan di hearts ekosistem (Morgan, Moss). 
(13) Ekologi Manusia. 
(14) Kebedaan areal Dari Paduan gejala-gejala PADA permukaan bumi (Hartskorus).

Ini terkait dengan aspek geografi yang mengatur interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian permukaan bumi (ruang, area, wilayah, kawasan) dengan manusia. Pengertian bagian permukaan bumi mencakup juga fauna, flora, dan biosfer. Tidak ada ruang atau wilayah atau tempat yang menjadi perhatian geografi sejak dulu. Tidak ada disiplin ilmu yang memperhatikan fakta tentang ruang, yang dipertanyakan penting sebagai tempat dari aneka ragam masalah dan kejadian di permukaan bumi kita ini. Geografi memperhatikan ruang (ruang) dari sudut pandang wilayah “an sich” dan bukan dari sudut pandang variasi-gejala yang terhimpun di dalamnya. Hal ini yang membedakan geografi dari ilmu-ilmu lain. Maka analisis tentang "area yang kompleks" merupakan bagian dari perhatian utama dari geografi.

Pada hakikatnya, Geografi sebagai bidang ilmu, selalu melihat keseluruhan topik dalam ruang dengan memperhatikan seluruh aspek yang menjadi komponen setiap aspek tadi. Geografi sebagai satu kesatuan studi (unified geography), melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, dengan mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang diinginkan. Hubungan-interaksi, menjadi hakekat mengalihkan kerja utama pada Geografi dan Studi Geografi (Sumaatmadja).

Dalam perkembangannya, dengan objek studi geografi tersebut dikembangkan ilmu pengetahuan Geografi Fisis (Geografi Fisik), Geografi Manusia (Geografi Manusia), dan Geografi Regional (Geografi Regional); dengan berbagai anak cabangnya masing-masing.

2. Aspek Epistemologis
Aspek epistemologis (metodologis, membahas) geografi sesuai dengan aspek epistemologis ilmu pada umumnya, yaitu penggunaan konsultasi ilmiah dengan menggunakan deduktif, hipotesis, dan juga penelaahan induktif yang dijual di dalam pemasangan verifikasi. Pendekatan deduktif analisis geografi bertitik tolak dari pengamatan umum, yaitu dari postulat, dalil atau premis yang dipertimbangkan sudah disetujui secara umum. Kemudian diambil dari hasil umum (diambil dari umum ke khusus). Dari beberapa pertanyaan yang diambil (dari penalaran ke yang umum). Dengan metode induksi-empiris saja, maka hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori geografi hanya berlaku di suatu tempat dan waktu-waktu tertentu, alasan hukum, dalil dan teori geografi sangat tergantung pada kondisi lingkungan lokal. Untuk menjembatani kedua pembahasan yang berbeda ini geografi menggunakan metode meminta pemikiran reflektif; yaitu menggunakan atau membahas tentang dedukif dan hilir-mudik dalam penelitian geografi.
Ada tiga macam cara untuk memutar realita pada permukaan bumi (menurut Kant, Hettner, Hartshorne):

Sebuah. Secara sistematis; yaitu mencari penggolongan, ketegori, membantah dan membiasakan diri dari pertikaian-keputusan yang ada pada permukaan bumi. Terjadilah ilmu-sains seperti biologi, fisika, kimia (sains tergabung ilmu-sains alam), dan sains-sains seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, politik.

b. Secara kronologis (chronos = waktu); yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan pada permukaan bumi dalam urutan-urutan waktu (palaeontologi, arkeologi, sejarah).

c. Secara korologis (choora = wilayah); yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam percakapan dengan ruang bumi (geografi, geofisika, astronomi). 
Dari tiga macam yang dimaksud sebelumnya, ilmu geografi menggunakan (mengutamakan) meminta korologis. Penggunaan peta adalah bentuk dari permohonan korologis ini. Ahli geografi yang mengatakan, "Geografer adalah orang yang bekerja dengan peta untuk menghasilkan peta." 
Orang yang berkecimpung dalam bidang geografi, sekurang-kurangnya harus melakukan dua jenis meminta, yaitu yang berlaku pada sistem keruangan [korologis] dan yang berlaku pada ekologi atau ekosystem. Sementara untuk mengkaji perkembangan dan dinamika beberapa masalah dan atau masalah, harus pula menggunakan historis atau menggunakan kronologis (Sumaatmadja, 1981).

3. Aspek Aksiologis 
Adapun ASPEK aksiologi geografi Adalah mengikuti pendekatan Fungsional untuk review Kesejahteraan Manusia. Terkait geografi dengan aspek-aspek bidangnya yang menjadi cabang ilmu yang menjelaskan, meramal, dan mengontrol yang diaplikasikan ke dalam Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Aspek aksiologi ilmu pengetahuan geografi ini melahirkan Geografi Terapan.

Sebuah. Menjelaskan 
Geografi harus dapat memberikan penjelasan tentang gejala-gejala objek studinya. Menjelaskan tentang orang yang akan membahas tentang masalah, bagaimana menghadirkan (deskriptif) dan membahas sebagaimana terjadi (analisis kausalitas). Penalaran dengan logika deduktif dan induktif merupakan sarana dalam memberikan penjelasan itu. Penjelasan itu dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Sistem Informasi Geografis (SIG atau GIS = Sistem Informasi Geografis) adalah inplikasi dari fungsi-fungsi yang menjelaskan data dari gejala geografis.

b. Meramal 
Geografi harus dapat meramal (memprediksi) Fungsi meramal ini bertolak dari penjelasan yang telah diberikan dan yang disampaikan pada orang lain. Dengan memahami itu orang dapat menggunakan sesuatu, menggunakan masalah, menghindari, menghindari menggunakan atau mengurangi ekses yang mungkin lebih baik karena berkaitan dengan masalah itu. Dengan pengertian ini, orang juga dapat membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi pada suatu pertanyaan tertentu yang muncul.

c. Mengontrol 
Geografi harus dapat diatur gejala-gejala. Ramalan dalam geografi, seperti halnya dalam disiplin ilmu yang lain, memberikan rangsangan bagi seseorang untuk mendapatkan persetujuan atau pun mempertimbangkan berbagai alternatif. Karena ramalan itu juga orang yang bisa membantah sesuatu untuk mendorong, menyambutnya, menghindarinya, mencegahnya, atau pun mengatasinya.
Dengan demikian hakekatnya, maka geografi yang didukung untuk penyebaran yang efektif, pemanfaatan sumber daya yang potensial, dan perbaikan lingkungan dengan segala yang mendukungnya. Gerakan perbaikan kependudukan dan lingkungan hidup adalah salah satu manifestasi dari fungsi pengaturan untuk menghindari, mencegah atau mengatasi masalah yang sedang dan akan terjadi di hadapi di muka planet bumi ini. Demikian juga dengan penerapan geografi dalam perencanaan dan pengembangan wilayah. 
Aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis geografi seperti ini memudahkan geografi yang disetujui sendiri dalam perbandingan yang jelas.

Jika ada yang membedakan ilmu dan pengetahuan menjadi kelompok ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial, maka kedudukan geografi adalah menjembatani kedua kelompok ilmu tersebut. Jika "semua" fenomena pada permukaan bumi telah dipilih dan ditekuni oleh berbagai disiplin ilmu (selain Geografi), maka tempat atau ruang atau area di mana segala peristiwa dan konteks itu terhimpun, tetap tidak menjadi perhatian ilmu-ilmu tersebut.

Untuk menuju geografi Terpadu (unifying geography) perlu ditegaskan komponen inti Geografi. Matthews, et al., (2004) mengajukan empat komponen inti Geografi: ruang (tempat), tempat (tempat), Lingkungan (lingkungan) dan peta (peta).

Ruang menjadi satu konsep dalam inti geografi, yang dapat dilihat sebagai mengunjungi spasial-korologikal untuk Geografi. Ruang juga kemenangan Geografi setiap waktu, kompilasi analisis spasial menjadi satu pendeskripsi untuk satu bentuk dari pekerjaan geografis. Pola spasial umum menjadi titik awal untuk kajian geografis; yang selanjutnya dapat dilacak proses perubahan spasial dan sistem spasial.

Tempat merupakan komponen kedua dalam inti geografi. Tempat terkait dengan kosep teritorial dalam Geografi dan karakteristik, kemelimpahan dan batas. Tempat merupakan bagian dari dunia, tempat nyata manusia bertem dan dapat dikenali, dinterpretasi dan dikelola. Dalam ahli geografi manusia merupakan refleksi dari identitas idividu atau kelompok; sedang bagi ahli geografi fisik tempat tempat refleksi dari perbedaan lingkungan biofisik.

Lingkungan merupakan komponen inti yang mencakup lingkungan alami (topografi, iklim, udara, biota, tanah) dan sebagai komponen inti yang memadukan dengan komponen geografi lainnya. Lingkungan menjadi antarmuka antara lingkungan alam dan budaya, tanah dan kehidupan, penduduk dan lingkungan biofisikalnya.

Peta sebagai komponen inti Geografi Lebih dari bentuk representasi, tehnik dan definisi dari satu konsep atau teori. Peta dilihat sebagai pernyerhanaan perpektif spasial dari fenomena / peristiwa yang dikaji dalam Geografi.

Ruang, tempat, Lingkungan dan peta menjadi label dari Geografi. Komponen ini memiliki kedudukan yang sama dalam kajian Geografi, baik dalam kajian Geografi Fisik maupun Geografi Manusia. Demikian juga dapat menjadi konsep dasar untuk disiplin Geografi secara keseluruhan.

HAKIKAT GEOGRAFI

1. Pengertian Geografi. 
Hasil Simlok IGI tentang geografi adalah ilmu yang membahas persamaan dan fenomena geografi dari sudut 
pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan.

2. Ruang Lingkup Geografi. 
Studi geografi selalu menganalisis fenomena manusia dan fenomena alam dari segi lokasi dan fenomena persebaran di 
permukaan bumi, serta mencari interelasi dan interaksinya dalam ruang tertentu. Rhoad Murphey mengemukakan tiga 
pokok ruang diskusi geografi, yaitu sebagai berikut: a. Persebaran dan keterkaitan penduduk di muka bumi dengan 
kontribusi aspek-aspek b. Interaksi manusia dengan 
Lingkungan Fisik yang merupakan salah satu bagian dari keragaman wilayah c. Kajian terhadap wilayah dan analisis 
dari daerah yang mempeunyai ciri khusus.

3. Objek studi geografi. 
Para ahli geografi Indonesia yang tergabung dalam IGI, yaitu objek studi geografi di dua. 
Sebuah. Objek material geografi adalah fenomena geosfer yang terdiri atas litosfer, atmosfer, hidrosfer, bisfer, dan antroposfer. 
Misalnya pola permukiman desa-kota, DAS, bentangan alam, cuaca dan iklim. 
b. Objek formal geografi adalah cara memandang dan berpikir terhadap objek material geografi dari sudut pandang 
keruangan dalam kontek kewilyahan dan kelingkungan. Hal formal hal-hal sbb: - pola dari sebaran pola tertentu 
di muka bumi (pola spasial) - keterkaitan sesame antar gejala (sistem tata ruang) - perkembangan yang terjadi 
pada gejala tersebut (proses tata ruang)

4. Hakikat Geograf. 
Studi geografi tentang hakikatnya merupakan pengkajian keruangan tentang fenomena dan masalah kehidupan manusia. 
Studi disusun berdasarkan hasil pengamatan berbagai fenomena di lapangan. Hasil Observasi di lapangan akan 
membentuk pola abstrak dari fenomena yang dikumpulkan. Pola Abstrak yang disebut konsep geografi. Oleh karena itu, 
tanpa kerja lapangan tidak akan menghasilkan konsep tentang hakikat fenomena dan masalah kehidupan yang 
sebenarnya. 
Guna menghasilkan konsep fenomena, diperlukan analisis fenomena manusia, fenomena alam, serta 
persebaran dan interaksinya dalam ruang. Untuk menunjukkan dan menjelaskan fenomena tersebut
dipermukaan bumi diawali dengan mengajukan enam pertanyaan pokok. Yaitu apa, di mana, mengapa, siapa, dan bagaimana 
(5W 1H). Misalnya untuk menjelaskan fenomena yang terjadi maka pertanyaan yang diajukkan adalah apa yang terjadi, 
fenomena mana yang terjadi, fenomena yang terjadi, fenomena yang terjadi, siapa saja yang sedang memperbaiki 
, dan bagaimana upaya mengatasinya.

5. Konsep geografi. 
Dalam geografi merupakan konsep dasar yang esensial, yaitu 
a. Konsep lokasi, yaitu letak di permukaan bumi. 
Monas terletak di Jakarta 
b. Konsep jarak, yaitu jarak antara satu tempat dengan tempat lain. Harga tanah di desa 
murah karena jauh dari pusat kota. 
c. Konsep keterjangkauan, yaitu hubungan tempat dengan tempat lain 
(jalan, komunikasi, dll). Masyarakat Badui terbelakang karena terisolir dengan masyarakat lain. 
d. Konsep pola, 
yaitu adanya pola persebaran suatu fenomena, seperti permukiman memanjang, memusat atau tersebar. Pemukiman 
penduduk nelayan memanjang mengambil garis pantai.
e. Konsep morfologi, yaitu bentuk permukaan bumi sebagai hasil 
tenaga eksogen dan endogen (misalnya pulau, peguungan, daratan, lereng dan lembah. Setiap permukaan bumi memiliki 
kelebihan yang berbeda untuk manusia. Misalnya di daerah yang cocok untuk pertanian sayur-sayuran dan perkebunan. 
f. KONSEP aglomerasi, pemusatan penimbunan Suatu Kawasan. (industri, pertanian, 
permukian). Masyarakat umumnya mengelompok DENGAN Orang Yang mempunyai Tingkat kehidupan sejenis. Oleh 
KARENA ITU Muncul Istilah Daerah elit, kumuh (slum). 
g. KONSEP Nilai kegunaan, DENGAN berkaitan Manfaat dari fenomena 
yang ada di permukaan bumi yang relatif. Misalnya daerah wisata memiliki nilai kegunaan yang berlainan
bagi setiap orang, ada orang yang datang ke daerah wisata hanya sekali bahkan ada yang berulang kali. h. Konsep 
interaksi dan saling ketergantungan, yaitu peristiwa saling mempengaruhi antar berbagai fenomena geosfer. Misalnya 
interaksi antara desa dan kota. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam memanfaatkan potensi sumber daya antara 
desa dan di kota. saya. Konsep perbedaan wilayah, perbedaan antar antarwilayah di permukaan bumi, 
dengan ciri khusus yang dapat dibedakan dengan wilayah lain atau dikenal dengan istilah wilayah. (Asia Tenggara, Asia 
Selatan Amerika Selatan) j. Konsep keterkaitan keruangan, yaitu hubungan persebaran suatu fenomena dengan
Fenomena lain di suatu tempat. Misalnya dataran tinggi lebih rendah dari daerah rendah rendah. 
Oleh karena itu sayuran, dan pinus dapat tumbuh dengan baik di daerah budidaya.

6. Prinsip-Prinsip Geografi. 
Prinsip geografi menjadi dasar pada uraian pengkajian (studi) dan pengungkapan fakta, variasi, faktor-faktor baik masalah geografi. Secara teoritis prinsip geografi terdiri dari: 
a. Prinsip penyebaran, yakni fakta dan fakta geografi, baik yang menyangkut keadaan alam maupun yang terkait luas di permukaan bumi. Penyebaran ini 
tidak sama antara satu wilayah dengan yang lain (relasi). lainnya. 
dengan melihat dan mengungkap fakta dan fakta pada peta, kita dapat mengungkapkan
b. Prinsip interelasi, yaitu interelasi dalam ruang yang menyatakan saling terkait antara satu fakta dengan yang lain atau antara faktor yang satu dengan faktor lain dalam satu ruang tertentu. 
c. Prinsip deskriptif, yaitu prinsip untk memberikan penjelasan atau penjelasan lebih jauh tentang penjelasan atau masalah yang dipelajari atau diselamatkan. Deskripsi ini digunakan untuk menjelaskan sebab-sebab interaksi dan interkasi antara faktor yang satu dan lainnya. Dalam memilih kerja prinsip geografi tidak dapat dihapus. d. Prinsip korologis atau 
prinsip keruangan, fakta dalam fakta, fakta, fakta, dan masalah geografi ditinjau dari
Penyebaran, interelasi, dan interaksinya dalam ditempatkan pada ruang tertentu. Yang dimaksud dengan ruang ini adalah permukaa bumi, baik secara keseluruan maupun sebagian.

7. pertimbangan Geografi. 
Geografi sebagai ilmu kebumian selalu mengkaji hubungan timbale balik antara fenomena dan perdebatannya 
dengan pertimbangan keruangan, ekologi, dan komplek regional. 
Sebuah. Pendekatan keruangan 
berusaha mengkaji keberadaan tempat penggambaran, distribusi, relasi, dan interelasinya. Sebagai contoh adalah teori difusi yang menelaah keberadaan penjalaran atau fenomena dalam ruang (ruang) dan dimensi waktu (waktu). 
Sebuah. Pendekatan kelingkungan (pendekatan ekologis) 
. Dalam suatu ekosistem jika ada satu elemen yang berkembang di atas batas maksimum, maka elemen yang lain akan semakin menurun kualitasnya.
b. Persetujuan kompleks wilayah 
merupakan perpaduan antara pembahasan keruangan dan ekologi. Disebut kompleks wilayah tertentu (diferensiasi areal). Karena ada anggapan tentang interaksi antarwilayah akan berkembang bila ada permintaan dan penawaran antarwilayah tersebut. Dalam hubungan kompleks wilayah ini, ramalan wilayah (wilayah perkiraan) dan perencangan wilayah (perencanaan wilayah) merupakan aspek-aspek yang menelaah fenomena tertentu 
pada suatu wilayah / wilayah secara fisik atau sosial. 
Wilayah adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik (cirri khas yang sama), sehingga dapat dibedakan dengan daerah sekitarnya.

8. Aspek Geografi 
Aspek geografi terdiri dari asek fisik dan komposisi sosial. 
Aspek fisik mengkaji semua fenomena yang ada dan terjadi di geosfer, termasuk litosfer, atmosfer, hidrosfer dan biosfer. 
Aspek sosial mengkaji manusia dan kehidupannya di muka bumi. Di sini, geografi mengadakan persebaran dan keaneka ragaman budaya. 
Contoh aspek fisik dari litosfer tentang dataran tinggi dan aspek sosial geografi dalam kehidupan sehari-hari. 
Kondisi fisik di daerah dataan tinggi suhu udara, tanah subur tergantung di jalur gantung sehingga 
memanfaatkan daerah dataran tinggi untuk usaha perkebunan sebagai mata pencaharian kehidupan sehari-hari. 
Prinsip Geografi

Dalam menganalisis fenomena geosfer, pada ilmu geografi menggunakan prinsip-prinsip geografi. Berdasarkan prinsip geografi:

1. Prinsip Sebaran atau Penyebaran arti: ada sebaran fenomena, gejala, fakta, peristiwa dipermukaan bumi. Sebaran fenomena atau fenomena yang teratur ada yang tidak teratur. Yang teratur: ada yang mengelompok, menyebar, memusat, memanjang bergantung pada fenomena. Pengertian fenomena atau fenomena diartikan sebagai: semua data, fakta, peristiwa yang ada dipermukaan bumi. Secara umum terbagi menjadi 2 kelompok besar yaitu: 
a. Fenomena alam terdiri dari: kekuatan, proses, biotis, topologis, fisis dan lain-lain 
b. Fenomena sosial (ranah manusia) terdiri dari: a. Lingkungan sosial: terdiri dari: tradisi, hukum, tradisi, dll. b. Bentang alam budidaya terdiri dari: pemukiman, persawahan, hutan buatan dll. c. masyarakat
Persyaratan untuk menganalisis dengan prinsip distribusi harus ada fenomena yang dikaji dan ada pola sebaran fenomena tersebut.

2. Prinsip dekripsi: diartikan penjelasan lebih lanjut tentang fenomena ini lebih detail dengan gambar, tabel, diagram, peta dsb. 
Ketika kita menggunakan prinsip deskripsi di dalam analisis fenomena geosfer yang berarti kita uraikan secara detail tentang gejala atau fenomena yang dikaji, membahas dengan penjelasan yang melengkapi tabel, gambar, grafik dsb. 
Contoh: fenomena penduduk di Kelurahan X: Penduduk adalah kelompok masyarakat yang menentukan suatu wilayah di dalam waktu yang relatif lama dari satu kesatuan hukum. Berdasarkan jenis kelamin terdiri dari laki-laki dan perempuan. Berdasarkan jumlah usia produktif dan tidak produktif xxxx juta jiwa (buat tabel) dst… .dst.

3, Prinsip Interelasi: diartikan ada hubungan antara fenomena yang satu dengan fenomena yuang lain pada suatu ruang. Terkait fenomena atau isu di muka bumi mungkin berdiri sendiri pasti ada keterkaitan dengan fenomena lain. Tanaman padi bagus di dataran rendah. Ada keterkaitan yang sangat tinggi antara fenomena tanaman padi dengan fenomena dataran rendah… dst

4. Prinsip Korologi: Fenomena yang dilihat dari sebaran dan interelasi berada pada ruang tertentu. Prinsip-prinsip yang Dipertanyakan Haruslah menjadi prinsip-prinsip geografi yang ada. Ketika kita mengunakan prinsip ini dalam menganalisis fenomena geosfer berarti menguraikannya dengan penggabungan prinsip yang ada. Misalnya kita berbicara tentang pasar pada suatu wilayah, maka pasar akan bergantung pada fenomena pembeli, penjual, barang, transportasi, transaksi pada ruang tertentu pula.

[Continue reading...]
 
Copyright © . MA NURUL IMAN SEKINCAU LAMPUNG BARAT - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger